Thursday, August 12, 2010

dari kacamata yang berbeza

Balada Petani Tua

Barjo tubuh sederhana
mata bulat kepala berkulat
kulit kematu -
di bawah mentari bulan satu
suatu harapan bumi tiada retak

Markonah isteri setia
mata cangkung tiga belas anak mengepung
berlindung di bawah kepak petani
tanah sekepal rumah sebuah pusaka mati

Justeru Tumin putera tua
sisa pertarungan manusia
menegakkan pepanji bangsa
telah cedera kaki tiada ertinya

Sedang Tuban putera kedua
gonjol - gilakan janda kaya
sehari kerja sehari melawa
usia kian memanjat senja
dunia tanpa difikir diri berkecamuk jua

Dan Gareng anak ketiga
tiga kali kahwin bercerai jua
betapa harta tiada berbudi sementara
ditambah bini-bini yang culas,curang dan meradang
tidak mengenal batas bertandang dan kecundang

Si Gawok puteri keempat
kematian suami anak empat
tutup lubang gali lubang
penebus kehidupan segala termengkalan

Sentot belia nganggur
putera kelima tamat sekolah atap
sijil berlipat menyogok harap
tukang sapu tukang angkat

Saring ada SRP pangkat C
putera keenam paling tabah
tiada pernah meminta-minta
surau dan gubuk istana perlindungan
hasrat ingin merakam seluruh kehidupan:
( keluarga kami petani tradisi
mahu mendaki ingin menguji
bangsa manusia tiada serupa )

Jemblong putera ketujuh paling gelojoh
ringan tulang kenyang berdagang
pengasih dan penyanyang -
ya, kesayangan ayahda bonda sekeluarga
malang bersekolah tiada

Gambreng dan Mumberuh kembar kemerdekaan
sekolahnya sekerat jalan
dangkal dan tawakal
mewarisi dan kekal

Seriwut putera paling pintar
sabar dan berlapar
ayahbonda telah berkerat-kelar
cita-cita dan debar
anaku ; Pemimpin besar

Bolot putera bungkus
satu kepercayaan amat kudus
berani, kebal macam Mat Kilau
pada dengan kalimah lebai bagai rasul
jauh dari fatwa yang unggul
dan lari dari pedih perit
bulan dan mentari sakit
kesal dan menyesak menggigit

Tomblok puteri ayu
timangan ibu segera bermenantu
pemuda kaya paling tiada tukang kayu
sedang tubuh berkudis buta
sekolah darjah dua
betapa saudara kandung hidup derita

Dan Jombot puteri bungsu
- tiga belas hatinya kelabu
tanpa pesta dunia maju
segala layu dan kaku

Sepasang petani tua
- bumi dan manusia
bersyukur atas segala pemberian
bertawakal dalam perjuangan
rezeki secupak bukan segantang jadinya

Dan hiduplah petani perjuangan
tidak mengukur baju dibadan orang
tetapi memacu tega belas jiwa
bagai buldoza raksaksa
sekali-sekala lumpuh kemahuannya

( S. Panit : Berita Minggu )


Parti

Aku yang bukan aku lagi di majlis ini
yang menilai erti tamadun dengan sinis sekali
yang menyerikan malam dengan nion warna-warni
dengan ganja dan malboro serta gadis lincah
yang manis yang manja yang menggila
yang sweet seventeen yang bermini yang membayang
dengan fesyen yang paling latest dipamerkan
yang ketat yang padat yang harum bau topaz
yang melondeh yang terkeweh di tengah gelanggang

Aku bukan aku lagi di situasi yang gentleman ini
yang harus sporting yang harus kontemporary
yang harus melonggarkan sopan-santun dan berbudi-budi
jika para peria dan gadis manisku yang di sini
yang ada siangnya memakai uniform seragam putih dan hijau
yang pada siangnya membimbit buku dan jalan atas batu
di malam ini ia ketawa dan ia rela disentuh raba
di malam ini ia girang ia tidak keseorangan
di sudut-sudut kelam dalam rangkulan peria berambut panjang

Aku yang bukan akau lagi dalam keadaan yang normal ini
yang harus menyangkutkan tatamoralis di gelas anggur
yang harus bermuka-muka sekali pun dengan egoku
jika tamu dan jagonya dari elite yang ideal sekali
yang senyum lebar ala hippies di atas pentas
berbicara lagak Tom Jones garau suaranya
dengan gadis manis beralis lentik Max Factor
menari menyanyikan lagu Love is Blue
penuh emosional dan menggetar kalbu
malam yang ganas yang lunak yang menghairahkan
tika kugiran kian rancak dengan caca dan twist
kini tiada yang abnormal dan mengantuk layu
segalanya segar bugar segalanya meloncat bersama pasangan
yang minum yang menanti yang terus menari
yang mesra yang membisik-bisik ke telinga
bertukar gelas bertukar tangan bertukar rangkulan

Aku yang kembali normal di malam itu
terasa jauh datarnya nilai reality ini
sekeping hati telah cacat cedera
dalam kehangatan itu ku hirup sebuah keruntuhan
gadis periaku yang hanyut di tengah jalan.


( Ahmad Sarju :Mastika )



GUNTOR SADALI:


Speech by Berita Harian Singapore editor Guntor Sadali, at the Berita Harian Singapore Achiever of the Year Awards ceremony on July 28, 2010
: It is a fact known to all that Malays in Singapore are a minority. However this minority is quite different from other minorities in the world. Similarly, to some, Singapore is just a red dot in this vast Asian region. But it is no ordinary red dot. It is a grave mistake to equate size with ability, just as it is wrong to assume that being small and in the minority is to be weak and insignificant. The recent World Cup proved this. While Spain may be the world champion, it was minnow Switzerland that became the only country in the tournament that was able to defeat Spain. Forty-five years have passed since Singapore left Malaysia, yet every now and then we still hear non-complimentary comments from across the Causeway about the Malay community here. The latest came from former Malaysian Prime Minister Dr Mahathir Mohamad, who casually reminded Malaysian Malays not to become like Singaporean Malays. He did not make it clear what he actually meant, but the comment was made in the context of the possibility of Malaysian Malays losing their power in Malaysia. Again he did not specify what type of power, but it could safely be interpreted as political power. Now, what could have happened to the Malays here in the last four decades? What could have driven Dr Mahathir to voice his concern and to caution the Malaysian Malays? I wonder. The Malay community in Singapore, of course, know what has become of us here. First and foremost, we have become a completely different community from what we were 45 years ago. We have developed our own identity and philosophy of life that are distinct from our relatives across the Causeway. We may wear the same clothes, eat the same food, speak the same language and practise the same culture. However, the similarities end there. We are now a society that upholds the philosophy of wanting to stand on our own feet, or what is known in Malay as ‘berdikari’ or ‘berdiri atas kaki sendiri’. We do not believe in being spoon-fed or being too dependent on government help. In other words, we do not have a crutch mentality.We firmly believe that a community with such a crutch mentality will soon become a “two M” community – the first ‘M’ stands for ‘manja’ (spoilt), and the second for ‘malas’ (lazy). We definitely do not want to be labelled as a pampered and lazy community. That is why our Malay community here constantly work hard to raise funds to build our own mosques, madrasahs and other buildings in expensive and land-scarce Singapore. Over the years we have raised millions of dollars to become proud owners of these buildings. Through our own efforts and with the help of other organisations, we have also helped the needy not only financially, but also in equipping them with new skills so that they can earn their living. For Dr Mahathir, however, all that we have done and achieved so far are not good enough. He takes a negative view of our changed attitudes and different mindset, and has therefore cautioned Malaysian Malays not to be like us. What about power? For Malays in Singapore, power is not about wielding the keris. For us, knowledge is power. In fact we believe that knowledge is THE real power. The constant emphasis by the community on the importance of education and acquiring knowledge has led to the formation of institutions such as Mendaki, Association of Muslim Professionals (AMP), the Prophet Mohamad Birthday Memorial Scholarship Board (LBKM) and many others. These self-help organisations not only provide financial help to needy students, but also strive to nuture our students to their full potential. At the same time, these organisations help to tackle various social ills faced by the community. Again, we do these all on our own. Malay children here attend the same schools as other Singaporeans with a shared aim – to obtain a holistic education and, of course, achieve good examination results. Yes, it is tough. Like all other children, our Malay students have no choice but to work hard. It is a reality of life in Singapore that we have come to accept – that there is certainly no short cut to success. We do not believe in getting any special treatment, because it would only reduce the value of our achievements and lower our dignity. The meritocratic system that we practise here is, without doubt, a tough system but it helps us to push ourselves and prevent us from becoming ‘manja’ and ‘malas’. Still, Dr Mahathir and some Malay leaders across the Causeway do not like the way we do things here and have therefore warned Malaysian Malays not to be like us. On our part, there is certainly no turning back. Meritocracy has proven to be a good and fair system. It pushes us to work hard and makes us proud of our achievements. We can see how it has benefited us by looking at the growing number of doctors, lawyers, magistrates, engineers, corporate leaders and other professionals among us. It is the successes and achievements of some of these people that Berita Harian wants to highlight and celebrate when we launched this Achiever Award 12 years ago. Tonight, we have another role model to present to our community. So, the question is: Shouldn’t our friends and relatives across the Causeway be like us – Malays in Singapore? It is definitely not for us to suggest or decide. And we too have no intention of asking our own community if we would like to be like them either, because we have already chosen our very own path for the future. We, the Malays in Singapore, should be proud of our achievements, because we have attained them through hard work. It is true that what we have achieved so far may not be the best, and that we are still lagging behind the other races. There are large pockets in our community facing various social problems. We have achieved so much, and yet there is still a long way to go. But we should not despair. We can do a lot more on our own if the community stay united and cohesive. In critical issues, we should speak with one voice. We need to help and strengthen each other while at the same time reach out to the other communities in multi-racial, multi-religious Singapore. A successful and prosperous Singapore can only mean a successful and prosperous Malay community. Can we do it? Well, to borrow US President Barack Obama’s campaign slogan, “ Yes, we can”.





Hati Siapa Tak Terharu

Siapa yang merasakan miliknya tergugat
adalah rasa kesedaranmu penuh tanggungjawab
betapa terharu hatiku hatimu yang mencintai bumi ini
satu demi satu mereka lepaskan ke tangan orang lain
yang mereka kira itu suatu paksaan kerana
yang tak pernah mereka tangisi untuk hutang esok hari
bahawa haknya kini telah hilang kini
walaupun di tanahair sendiri.

Alangkah berhati mulia engkau para pembela
kerana engkau lebih dahulu melihat peristiwa itu
yang perlu diselamatkan dari kehancurannya
bilamana kita ditagih oleh anak-anak kita
- bumi inikah tanahair kita?
bilamana mereka akan terpesona dengan kegagahannya
dan betapa hancur kita tika mengakuinya
sedang model kebesaran ini milik siapa?

Hati siapa yang tak terharu mengenangkannya
patahnya percintaan tidak sederhana penanggungan ini
sekali pun segenggam pasir tiada harga
tetapi kerana ia pertaruhan maruah dan nyawa
maka perginya menjadi kehinaan seluruh bangsa
seperti kita tiada tenaga untuk melindunginya.

Aduh betapa berdarahnya hati yang sedia tersayat
menimbal-balik cerita lara para buruh, petani dan pelaut
kini ladang itu sawah itu telah lama hanyut
dibawa arus kepunyaan asing bumi kian surut
maka mereka pun melepaskan tak terdaya menebus kembali
kerana difikirkan hidup matinya untuk mereka sendiri
bahawa rumah yang didirikan dengan gagah tersergam
di atas tanah yang bukan miliknya lagi.

Betapa kudus hatimu
yang bisa melihat hari depan bangsamu
dan kini engkau menjadi penyelamat
kepada setiap inci tanah dan setiap bumimu
dan melindunginya dari sebarang kemungkaran
semoga bumi ini tidak pecah berserpihan

Aduh, pengertian ini melerai cerita semalam
melihat ladang melihat sawah hijau terbentang
berbelah bagi hati sendiri untuk menganalisakan
setelah seorang pengembara senyum-senyum menawarkan
suatu kebanggaan demi kegagahan bumi ini
sedang hati kita terus pedih dan terus kita lindungi
dengan suatu anggukan.

Kini ada suara dari hati yang tersembunyi
yang lebih lama menangisi cerita pedih ini
kemudian didirikan satu keyakinan
di seluruh hati bangsanya sambil bersuara lembut
selamatkanlah kerana perahu belum jauh hanyut.

( Dewan Masyarakat )









Thursday, July 29, 2010

Melayu:terlalu ghairah pesta temasya

sidang meja bulat

majoriti peserta saran peperiksaan UPSR dan PMR dikekal dan perlu penambahbaikan

Tan Sri Abdul Rahman Arshad:
- sistem dua peperiksaan itu perlu diubah bagi membaikki kelemahan yang ada

- peperiksaan perlu ada untuk menilai apa yang diajar sebelum ini

Prof Emeritus Datuk Dr Ishak Haron:
- dua peperiksaan ini sekarang berorientasikan peperiksaan rujukan norma untuk pemulihan dan perlu diubah kepada peperiksaan untuk MENAKSIR prestasi pelajar berasaskan kriteria dan standard iaitu untuk menaksir sejauh mana pelajar MENGUASAI pelajarannya dan mencapai tahap yang ditentukan

- jika dimansuh, ia akan terlalu LEWAT untuk menaksir dan memantau KUALITI PENDIDIKAN serta terlewat untuk beri pelajar memperbaikki pembelajarannya

Tan Sri Prof T. Marimuthu:
- UPSR dan PMR perlu dikekalkan untuk MENILAI produktiviti sekolah dan pelajar

- membaikki sistem penilaian sedia ada dan memfokus kepada PENGAJARAN dan PEMBELAJARAN

Poh Chin Chuan:
- kementerian pelajaran TIDAK wajar membuat keputusan tergesa-gesa memansuh UPSR dan PMR sebaliknya mengumumkan FORMULA ALTERNATIF dan mendengar pandangan pelbagai lapisan masyarakat secara menyeluruh

Tan Sri Alimuddin:
- membisu seribu bahasa

BEBAN-BEBAN!

rupa-rupanya orang luar tak senang lihat kakitangan kementerian pelajaran GOYANG KAKI!

mereka DENGKI...

wakakakaaaaaaaa

tapi tak apa, keputusan ada ditangan alimuddin. alimudin boleh PERSEMBAH kepada muhyiddin, rasionalnya UPSR dan PMR diMANSUH:

- ikut cakap majlis gurubesar
- ikut kata persatuan guru
- ikut pendapat ahli fikir di kementerian, jabatan dan pejabat pelajaran

ORANG LUAR APA TAU?

dan yang pasti ikut KEHENDAK alimuddin sendiri yang selaras, yang sama, yang ngam dengan HASRAT muhyiddin...

UPSR DAN PMR WAJIB DIMANSUH!

Alhamdulillah...

ikut pengalaman saya kedua-dua peperiksaan itu cukup membebankan bersetentangan dengan tabii dan naluri saya masa itu:
- suka godak parit
- suka menggagau ikan di sungai bila musim kemarau
- suka main galah panjang
ini pulak terpaksa MENGHAFAL , maklumlah saya kena jawab dalam bahasa inggeris, mau tak mau kena jugak hafal, bosan menghafal di rumah, hafal atas pokok ..
ha! ha! ha!
macam BERUK!

Syukurlah kalau jadi mulai tahun 2011 anak cucu saya ada masa enjoy-enjoy:
- main sms
- main facebook
- main kunda-kundi
- main tari-menari
kalau tak cukup idea lantik menteri menang-menang jadi penasihat...banyak yang tradisional- tradisional dalam kamus dia...

bila anak-anak menguasai permainan-permainan tradisional ini, kita jadikan permainan wajib bila anjur sukan asean atau sukan komenwealth - ha! ha! ha! pasti banyak sumbang pingat pada negara. manalah tau kok-kok jadi juara!
KITA BOLEH!

- cikgu?
- ppd?
- jabatan?
- kementerian?
- ketua pengarah?
- menteri pelajaran?
tak payah pusing-pusing kepala - kan mereka golongan profesional biarlah setaraf dengan KEPROFESIONALNYA...

WORK SMART AND SMILE!

malangnya Melayu itu kuat bersorak
terlalu ghairah pesta temasya
sedangkan kampong telah tergadai
sawah sejalur tinggal sejengkal
tanah sebidang mudah terjual ( Datuk Dr Usman Awang )



mudah-mudahan kaum guru berdiri teguh di belakang muhyiddin. PANGKAH muhyiddin di PRU 13 nanti...

cakap-cakap di warung mamak:

- muhyiddin pelawa pelajar korea belajar bahasa inggeris di IPTA
- pelajar kita belajar bahasa korea, pelajar korea belajarlah Bahasa Melayu
- mana kelasnya Bahasa Melayu, Bahasa orang ulu-ulu...

- ramai sangatke orang kita berbahasa inggeris?
- ketinggalan zaman betul

- lima-lima anak aku gagal bahasa inggeris dalam UPSR
- anak awak yang tak boleh ikut kot
- dengar-dengar cikgu mereka bukan OPSYEN bahasa inggeris
- memang pun, sejak merdeka sampai tahun 2000, guru bahasa inggeris tak pernah cukup!
- siapa yang ajar?
- guru-guru yang yang bahasa inggerisnya 5 atau 6 peringkat SPM
- bolehke dia ajar?
- masa saya darjah 6 dulu, selalu cikgu suruh saya ajar murid darjah 5, darjah 4 ,boleh pun!
- boleh memang boleh...tapi anak anak aku tak lulus..
- ha! ha! ha! itu kena tanya 
- mahathir
- anwar
- najib
- hisyamuddin

- ni,ni, macamana pulak bila dah tak ada periksa?
- ada periksa pun anak awak tak lulus -sama jelah- macam tak de periksa!
- jangan bimbang, ramai calon guru sekarang dah punya degree, engineer, akitek, bio. mereka ni dilatih masa cuti penggal, dalam setahun dapatlah lesen mengajar
- bolehke jadi guru yang baik?
- bengkok besi lebih susuh dari bengkok kepala orang!
- wakakaka

- lagi pun guru-guru jahit, guru-guru masak, guru-guru tukang yang dah senior di sekolah menengah diminta bantu sekolah rendah, mereka jadi gurubesar dan guru-guru kanan...
- itu bukan bidang dia
- dia kan BOS , arah je, tak pandaike?
- huwa! huwa!huwa!

- dulu  BOS AKU kata - DIA dah 15 tahun berpengalaman mengajar matematik di sekolah menengah - jadi BOS sekolah rendah KONONNYER NAK TUNJUK TERE ajar matematik tahun 6...peratus lulus 18!
- itu baru tahun ke 16
- laaaaa! sampai tahun ke 18 - peratus lulus 18 jugak
- ha! ha! ha! tikam nombor 1818

- kalut-kalut!
- apa pulak kalut, sekolah dah lengkap dengan prasarana
- nak rujuk - pegi pusat sumber
- nak ujikaji - pegi makmal sains
- nak berbahasa - pegi makmal bahasa
- nak game - pegi MAKMAL KOMPUTER
- LAGI PUN DIA ORANG AJAR PAKAI KOMPUTER, ANAK-ANAK BELAJAR PAKAI KOMPUTER...OTAK DIA ORANG DAH MACAM KOMPUTER!

kita dah lebih 50 tahun MERDEKA, nikmatilah kemerdekaan ini...tak perlu susah-susah.. anak-anak kita pun tak perlu susah-susah!

menteri main pesta-pesta - kita main pesta-pesta!
menteri main bunga api - kita main bunga api!


" HIDUP HANYA SEKALI! "






pandai pak pandir

anak dipijak, dagang dijunjung
kucing dibunuh, tikus dibela
harta habis, badan tergadai
mendengar gelagak dagang
tak sedar bertelanjang
mendengar guruh di langit
air tempayan dicurahkan
mulut kena suap pisang
buntut kena cucuk onak
gunting makan dihujung
pak pandir juga yang menanggung
apa didengar gelagak dagang
gelagak rambutan jantan
orang berbuah, dia HARAM
kilat memancar, hujan tak lalu
awak juga KECUNDANG!

Za'ba - pelita Bahasa Melayu





Sunday, July 25, 2010

...macam seladang tua

isi tempat kosong

- ujian upsr dan pmr dimansuh
- ujian disedia di peringkat sekolah
- aspek kokorikulum mungkin diambilkira dalam menilai pencapaian murid

saya kurang faham kenapa orang-orang bijakpandai ni suka cakap kontot-kontot
atau

sedang menderita sindrom cakap kontot

atau

kerja orang-orang suratkhabar dan tukang-tukang siar yang sengaja mengontotkan pernyataan
orang-orang bijakpandai ini untuk mensensasikan isu seperti sensasinya cerita fasha sanda,
tiq zakiah, peter pan dan orang-orang yang seumpama dengannya.

atau

orang-orang bijakpandai ini pun bercakap sekadar MENGISI TEMPAT KOSONG

atau

MEMANG KOSONG PUN!

yang pasti

-menimbulkan banyak persoalan
-menimbulkan banyak kecelaruan
-menimbulkan rasa kegelisahan
-menimbulkan rasa muak dan benci yang mendalam


dari kumpulan i
beberapa minggu lepas tersiar di tv swasta ada bunyi-bunyi persatuan guru memberi lampu hijau
jika upsr dan pmr dimansuh

ha! ha! ha!

apakah persatuan ini mewakili semua guru di seluruh negara?

Nauzubillah!

apakah hanya pengerusi, setiausaha, bendahari dan ajknya yang buat keputusan?

Allahuakbar!

siapa pulak biasanya guru-guru yang suka BERPERSATUAN?

- adakah mereka pengetua atau gurubesar dari sekolah cemerlang?
- adakah mereka guru-guru yang mengajar subjek periksa?

atau

- pengetua dan gurubesar dari sekolah berbudaya selesa
- guru- guru biasa-biasa
- guru moral, pemulihan,pss dan sebagainya dari sekolah biasa-biasa
- guru-guru yang MENJAWAT jawatan KERANI atau MAT ANgkut SURAT di ppd, jabatan atau kementerian

PERNAHKAH persatuan yang katanya dari golongan profesional ini mengeluarkan
KERTAS-KERTAS ILMIAH yang boleh dijadikan rujukan dan panduan oleh ahli-ahlinya supaya lebih efisen
dan profesional dalam kerjayanya?

atau

sekadar kertas:
- tambahan cuti
- tambahan gaji
- tawaran ke tasik malaya
- tawaran masuk haatnyai dan beijing

TEPUK DADA

TEPUK DADA

TEPUK DADA TANYA MASALAHNYA!

dari kumpulan ii

kumpulan ini dipilih khusus dari kementerian, jabatan dan ppd

senang cakap

- orang-orang yang punya sijil berlapis-lapis dari universiti dalam dan luar negeri
- orang-orang yang penuh idea memaju dan mencemerlangkan pendidikan NEGARA

BERAPA tahunkan mereka berSABUNG
- di ulu negeri pahang
- di pinggiran sungai dan busut daerah SEMBERONG dan PAGOH
- dalam hutan dan pulau di serawak dan sabah

kadangkala keris TAMING SARInya yang begitu ampuh di khayalan dan atas kertas jadiTUMPUL SETUMPUL-TUMPULnya di gelanggang!

pernahke terdengar

- guru yang menjawat jawatan KERANI berbelas tahun di ppd menolak tawaran gurubesar!
- orang dari kementerian hanya mampu bertahan tak lebih 2 tahun sebagai pengetua - lari balik ke kementerian?

WAKAKAKAKAAAAAAAAAAAAAAAAA!

MAAF CAKAP
MAAF CAKAP
MAAF CAKAP

TAK SEMUA orang-orang dari kumpulan i dan kumpulan ii yang begitu,mungkin segelintir saja
tapi renung-renungkan lah sajak Dato' Dr Usman Awang di bawah ini:

Melayu itu orang yang bijaksana
Nakalnya bersulam jenaka
Budi bahasanya tidak terkira
Kurang ajarnya tetap bersantun
BILA MENGAMPU bijak beralas tangan

Bagaimanakah Melayu
Di abad dua puluh satu
Masih tunduk tersipu-sipu

agak lega juga bila terdengar

PEMANSUHAN UPSR DAN PMR TIDAK BOLEH DIBUAT TERGESA-GESA

ALHAMDULILLAH!

buat kajiselidik secara ilmiah dulu

- sikap dan komitmen guru masakini
- tahap penguasaan guru dalam kaedah dan metodologi pengajaran terkini
- tahap penggunaan:
- pusat sumber sekolah
- makmal sains
- makmal bahasa
- MAKMAL KOMPUTER!

andainya memakan masa yang lama dan perlu biaya yang besar, ha! ha! ha!

pak ketua, timbalan ketua. ketua pengarah dan pengarah-pengarahnya turun sendiri mencemar diri...
- tanpa bunga malai
- tanpa gendang serunai
- tanpa tarian melambai-lambai

masih lagi banyak sekolah yang tak seCEMERLANG sekolah-sekolah di :

- kubang pasu
- permatang pauh
- kuantan
- SEMBERONG!
- PAGOH!

jangan terkejut seandainya terjumpa

- mahluk-mahluk ASING buat kerja GANJIL-GANJIL

ATAU

- murid main pondok-pondok
- cikgu main facebook - terangguk-angguk

saya pasti ramai ibu bapa di luar sana yang masih SANGGUP menunaikan tanggungjawab terhadap anak-anaknya:
- dengan rela hati bayar kos PERIKSA anak-anak
- dengan rela hati beli buku teks untuk anak-anak
- dengan rela hati lunaskan yuran pibg untuk kebajikan anak-anak
- dengan rela hati beri wang saku anak-anak
- dengan rela hati bayar semua kos untuk kecemerlangan pendidikan anak-anak

dan janganlah nak kekal status PERIHATIN semua nak tanggung walhal kantong dah kosong!
carilah
carilah
carilah


dah bertahun-tahun kita dapat KETUA MEJA BULAT yang tak bulat-bulat, yang tak putus-putus:

suruh geleng - GELENG
suruh angguk - ANGGUK
suruh cakap - CAKAP
suruh lembut - LEMBUT

datang pulak ketua yang betul-betul bulat! HARAP-HARAP bulatnya boleh
baikpulih,baikpulih, baikpulih, baikpulih, baikpulih, baikpulih yang TIRIS di mana-mana rupanya bulatnya tak ubah macam seladang tua:

- langgar
- cantas
- ROBOH
- MANSUH

alahai...malangnya nasib anak cucuku!




merpati

dari jendela telah ku pandang
keadaan dua merpati terbang
ke kiri ke kanan melayang
terlalu indah dipandang

semakin lama semakin tinggi
keduanya itu bersuka hati
hal di dunia tiada peduli
memuas hati sendiri

setelah puas hati berdua
penat pun terasa pula
sebagaimana pun dicuba
akhirnya terjunam ke bumi jua

dari itu ingatlah merpati
janganlah fikir darjatmu tinggi
buat keputusan ikut nafsu sendiri
terjunam ke bawah lalu...


nyanyian jahara agus